Hari ini ada seseorang bertanya sama gue, kenapa belakangan kita semakin menjauh. Gue diem, cuma diem. Gue tidak berhak untuk menjawab. Karena yang terjadi sama kita nggak bisa cuma gue doang yang jawab. Kita semua yang harus jawab pertanyaan itu. Karena jujur, gue sendiri nggak tau kenapa kita gini.
Dari apa yang gue lihat, nggak banyak yang berubah dari hubungan yang kita jalin dari awal. Kita memang udah beda-beda kelas. Gue nyasar sendiri di IPS, sementara kalian ber-4 di IPA. Cuma Jen dan Koro yang sekelas. Gue rasa itu bisa jadi pemicu. Karena nggak bisa dipungkiri bahwa di kelas kita masing-masing, kita harus bisa bersosialisasi.
Dari awal kita emang udah takut soal ini kan? Tapi ya resiko. Gue punya jalan gue sendiri, dan akhirnya masuk IPS. Kalian sendiri punya jalan sendiri, dan akhirnya mulus masuk IPA, walau berbeda kelas. Tapi gue nggak mau jalan yang kita ambil ini jadi penghalang hubungan kita. Walaupun nantinya kita punya teman-teman yang baru, tapi gue tetep berharap kita bisa seperti dulu. Berjalan seiring, menggapai impian.
Terus kalo gue inget pertanyaan tadi, gue berpikir. Mungkin gue yang salah. Bukan rahasia umum kalo gue sama jen lagi dieman. Atau mungkin kalian nggak tau? Gue snediri nggak ngerti ya sama jalan pikiran gue. Entahlah, gue bingung dengan isi otak gue. Tapi udah hampir seminggu mungkin gue diem-dieman sama Jen. Dan mungkin itu yang bikin Lidya tanya sama gue kenapa belakangan kita menjauh.
Gue pribadi berusaha untuk tetap menjaga hubungan baik. Gue, sama camen tetep jalan bareng. Terkadang bareng Koro dan Jen juga (seminggu ini nggak komunikasi sama Jen). Istirahat kedua atau pagi-pagi mampir ke kelas Lidya. Semuanya gue lakuin karena gue sadar kalo kalian itu sahabat-sahabat terbaik yang gue punya.
Gue sendiri nggak pernah nyangka kalo suatu kejadian kecil bisa berakhir kayak gini. Entahlah... Sekarang kalo gue ditanya kenapa kita menjauh. Gue cuma bisa bilang selalu ada jawaban dari pertanyaan... Gue cuma bisa bilang itu. Karena gue sendiri nggak tau kenapa. Karena yang tau hanya kita ber-5. Cuma kita.
Tapi bukan ini yang gue harapkan sebenarnya. Gue mau kita kayak dulu lagi. Ya, itupun kalau masih ada hati yang mau memaafkan...
Tidak ada kata terlambat untuk sebuah permintaan maaf bagi gue...
Selagi itu tulus dari dalam hati...
Jadi dengan ini gue menyatakan permohonan maaf kepada setiap pihak yang merasa tersakiti karena gue... Khususnya bagi seseorang, yang gue yakin dia pasti sadarlah... Dan kalian juga pasti tau buat siapa permohonan maaf itu...
You Just call out my name
And you now, where ever I am
I'll come running to see you again
Winter, Spring, Summer or Fall
All you just to do is call
And I'll be there, yes I will
You've got a friend...
From Your Dearest Friend, Baim...
Dari apa yang gue lihat, nggak banyak yang berubah dari hubungan yang kita jalin dari awal. Kita memang udah beda-beda kelas. Gue nyasar sendiri di IPS, sementara kalian ber-4 di IPA. Cuma Jen dan Koro yang sekelas. Gue rasa itu bisa jadi pemicu. Karena nggak bisa dipungkiri bahwa di kelas kita masing-masing, kita harus bisa bersosialisasi.
Dari awal kita emang udah takut soal ini kan? Tapi ya resiko. Gue punya jalan gue sendiri, dan akhirnya masuk IPS. Kalian sendiri punya jalan sendiri, dan akhirnya mulus masuk IPA, walau berbeda kelas. Tapi gue nggak mau jalan yang kita ambil ini jadi penghalang hubungan kita. Walaupun nantinya kita punya teman-teman yang baru, tapi gue tetep berharap kita bisa seperti dulu. Berjalan seiring, menggapai impian.
Terus kalo gue inget pertanyaan tadi, gue berpikir. Mungkin gue yang salah. Bukan rahasia umum kalo gue sama jen lagi dieman. Atau mungkin kalian nggak tau? Gue snediri nggak ngerti ya sama jalan pikiran gue. Entahlah, gue bingung dengan isi otak gue. Tapi udah hampir seminggu mungkin gue diem-dieman sama Jen. Dan mungkin itu yang bikin Lidya tanya sama gue kenapa belakangan kita menjauh.
Gue pribadi berusaha untuk tetap menjaga hubungan baik. Gue, sama camen tetep jalan bareng. Terkadang bareng Koro dan Jen juga (seminggu ini nggak komunikasi sama Jen). Istirahat kedua atau pagi-pagi mampir ke kelas Lidya. Semuanya gue lakuin karena gue sadar kalo kalian itu sahabat-sahabat terbaik yang gue punya.
Gue sendiri nggak pernah nyangka kalo suatu kejadian kecil bisa berakhir kayak gini. Entahlah... Sekarang kalo gue ditanya kenapa kita menjauh. Gue cuma bisa bilang selalu ada jawaban dari pertanyaan... Gue cuma bisa bilang itu. Karena gue sendiri nggak tau kenapa. Karena yang tau hanya kita ber-5. Cuma kita.
Tapi bukan ini yang gue harapkan sebenarnya. Gue mau kita kayak dulu lagi. Ya, itupun kalau masih ada hati yang mau memaafkan...
Tidak ada kata terlambat untuk sebuah permintaan maaf bagi gue...
Selagi itu tulus dari dalam hati...
Jadi dengan ini gue menyatakan permohonan maaf kepada setiap pihak yang merasa tersakiti karena gue... Khususnya bagi seseorang, yang gue yakin dia pasti sadarlah... Dan kalian juga pasti tau buat siapa permohonan maaf itu...
You Just call out my name
And you now, where ever I am
I'll come running to see you again
Winter, Spring, Summer or Fall
All you just to do is call
And I'll be there, yes I will
You've got a friend...
From Your Dearest Friend, Baim...
No comments:
Post a Comment